Satu Desa Satu Juta Pelanggan || Merubah Desa Miskin Jadi Kaya

Apakah desa anda ingin berubah perekonomian, kesejahteraan dan pendapatan warga serta pendapatan asli desanya? Jika ya. Maka rubahlah mindset ( pola pikir kita ) karena dunia telah berubah paradigma ekonominya. Yang semula semua usaha dimulai dari produk, kini dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi semua usaha dimulai dari konsumen ( permintaan konsumen ).



Apabila jaman dahulu usaha dimulai dari produk, karena melimpahnya sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan sumberdaya modal, namun kita sudah berbeda. Karena sumberdaya alam sudah mulai menipis, kebutuhan, masalah dan harapan / kepuasan konsumen terus dan cepat berubah. Apabila kita menciptakan suatu produk di desa, dan konsumen belum jelas atau permintaan belum jelas, dapat dipastikan akan kesulitan pemasaran dan akan menguras waktu, tenaga, pikiran dan uang hingga membuat usaha kita jatuh.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi ini, maka memulai dan menjalanka usahapun telah berubah. Yang semula berorientasi pada produk, tetapi telah bergeser kepada konsumen. Dimana kita memiliki database konsumen berserta dengan kebutuhannya yang harus kita penuhi, permasalahan yang harus kita selesaikan dan harapan yang harus kita penuhi. Maka hubungan dengan konsumen harus dijaga dengan baik, agar kita memahami kebutuhannya, masalanya dan harapannya. Selanjutnya kita bisa menentukan produk atau solusi yang kita berikan.

Lalu bagaimana kita harus memenuhi konsumen yang terus dan cepat berubah. Kita harus punya database yang tentang sumberdaya di desa, seperti bahan baku, tenaga trampil, sumber modal dan lain lain yang terbentuk dari data dan informasi sehingga apabila ada kebutuhan konsumen, dengan mudah memenuhi. Karena data tersedia semua di desa.



Oleh sebab itu, apabila dahulu ada program OVOP ( One Village One Product ) yang artinya satu desa satu produk, akan lebih bagus lagi apabila dilengkapi dengan One Vilagge One Miliion Customer yang artinya Satu Desa Satu Juga Pelanggan. Dengan satu desa meiliki satu juta pelanggan, maka seluruh desa tergerak untuk memenuhi kebutuhan pelanggan tersebut dan tentunya akan mampu mengubah yang semula desa tidak produktif menjadi produktif, yang semua desa banyak pengangguran akan bekerja semua. Dan tentunya pendapatan perkapita maupun pendapatan asli desa akan berubah signifikan.

Lalu bagaimana membangun Satu Desa Satu Juga Pelanggan atau One VIllage One Milion Customer. Dalam pemasaran kita mengenal pepatah ” Sebanyak banyaknya penjual, masih banyak pembeli “. Bahwa berapapun jumpahnya penjual, maka pembeli itu tetap ada. Dalam hal ini ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membangun one village one million customer. Yaitu dengan:

  1. Membantuk Forum Offtaker atau forum yang bersedia membeli produk yang dibuat oleh masyarakat desa. Forum offtaker bisa dari perusahaan di lingkungan, bisa pemerintah daerah maupun desa lain.
  2. Membangun jaringan konsumen retail ( langsung ), konsumen industri ( perusahaan ) dan konsumen pemerintah, bisa pemerintah daerah, pemerintah daerah lain dan pemerintah pusat.
  3. Dan membangun database serta mengolah informasi konsumen itu sangat penting, guna mengambil keputusan dalam usaha / penjualan.



Sebagai contoh, jika suatu desa penghasil bibit Bawang Merah di Kabupaten Nganjuk memproduksi bibit bawang merang, maka untuk pasar goverment atau pemerintah akan dapat memiliki 415 Dinas Pertanian sebagai Calon Konsumen atau Konsumen di Indonesia. Belum bibit lain dan jenis konsumen lainnya.

Silahkan semua desa, terutama Badan Usaha Milik Desa yang ingin segera merubah desanya menjadi kaya dan sejahtera, rubah mindset dari membuat produk dulu, menjadi memiliki konsumen dulu. Dan dengan membangun database dan informasi konsumen, maka desa akan jelas arah usahanya dan bagaimana mencapainya. @supriadiasia.

Mari bagikan seluas-luasnya manfaat dengan tombol di bawah ini..
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 pemikiran pada “Satu Desa Satu Juta Pelanggan || Merubah Desa Miskin Jadi Kaya”

  1. Terimakasih Pak Ahmad Fahry, semoga bermanfaat dan kawasan kumuhnya bisa menjadi kawasan yang bermanfaat..

Tinggalkan komentar

BIIZAA ASIA