Mengenal Nilai Tukar Petani untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Indonesia.

Petani

Saat harga komoditas pertanian bagus, produktivitas petani turun. Tetapi saat produktivitas petani tinggi, harga turun. Ini yang membuat kesejahteraan petani selalu kalah. Untuk itu kita perlu mengenal nilai tukar petani dalam mensejahterakan petani dengan kebijakan publik, terutama infrastruktur yang mendukung kesejahteraan petani.

Dalam kesempatan ini biizaa akan menyampaikan tentang nilai tukar petani, sebagai alat untuk mengukur daya saing dan kesejahteraan petani. Dengan memahami nilai tukar petani, kita bisa membuat target nilai tukar petani untuk mendukung kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani merupakan indikator rasio indeks harga yang diterima oleh petani dengan indeks harga yang dibayar oleh petani dalam suatu nilai persentase.

Nilai Tukar Petani terdiri dari dua indeks, yaitu:

IT yaitu indeks harga yang diterima oleh petani. Berapa nilai atau harga yang diterima oleh petani adalah indeks IT.

IB yaitu indeks harga yang harus dibayar oleh petani, berapa biaya atau cost yang dikeluarkan petani adalah indeks IB.

Lalu bagaimana cara mengukur atau parameter dari Nilai Tukar Petani?





 

  1. NTP > 100, artinya petani memiliki daya saing dan meraih keuntungan. Karena yang diterima ( harga / pendapatan ) petani lebih besar dari apa yang dikeluarkan oleh petani ( biaya ).
  2. NTP = 100, artinya petani mengalami titik impas. Apa yang dikeluarkan oleh petani sama dengan apa yang diterima oleh petani. Sehingga petani tidak mengalami kerugian juga tidak mengalami keuntungan.
  3. NTP < 100, artinya petani mengalami kerugian. Apa yang dikeluarkan petani lebih besar dari apa yang diterima oleh petani dalam penjualan.

Lalu apa saja yang mempengaruhi Nilai Tukar Petani, sehingga mampu mencapai target Nilai Tukar Petani untuk meningkatkan kesejahteraan petani:

  1. Produktivitas Petani, produktivitas petani mempengaruhi nilai tukar petani, baik kualitas maupun kuantitas komoditas pertanian yang dihasilkan oleh petani.
  2. Distribusi, baik logistik maupun distribusi komoditas pertanian sangat mempengaruhi nilai tukar petani. Logistik yang tidak memadai mengakibatkan rusaknya komoditas pertanian, sehingga harga menjadi murah. Distribusi yang melalui beberapa tahapan juga akan meningkatkan biaya distribusi dan transportasi, sehingga harga tidak mampu bersaing lagi. Oleh sebab itu, membangun supply chain atau jaringan distribusi lebih pendek dan cepat sangat penting, membangun logistik komoditas pertanian agar terjaga kualitasnya juga sangat penting.
  3. Bertumbuh kembangnya sumber daya manusia petani. Petani tidak hanya fokus dalam produksi atau bertani, tetapi juga memahami sistem pemasaran, keuangan atau perdagangan. Karena bertani secara efektif, efisien dan ekonomis perlu di dukung sumber daya manusia ( petani ) yang memahami hal tersebut. Tanpa diimbangi itu akan memproduksi komoditas pertanian yang tidak dibutuhkan oleh konsumen dan lain lain.
  4. Kuatnya lini purchasing ( pembelanjaan ), dengan memperkuat dan menjaga lini purchasing atau pembelanjaan petani, maka petani akan lebih kuat. Lini purchasing diantaranya adalah belanja modal ( akses keuangan / perbankan ), belanja benih atau bibit unggul dan pupuk serta kebutuhan lainnya yang sangat mempengaruhi produktivitas petani.




Peran pemerintah daerah adalah menentukan target pertumbuhan Nilai Tukar Petani, sekaligus membuat program program untuk mencapai target Nilai Tukar Petani. Peran petani adalah membangun usaha pertanian dengan terus belajar dan bertumbuh kembang bukan hanya dalam produksi / bertani, melainkan belajar aspek manajemen lainya, seperti keuangan, pemasaran dan pengelolaan sumberdaya manusia serta teknologi ( supriadi asia / biizaa ).

Mari bagikan seluas-luasnya manfaat dengan tombol di bawah ini..
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •