Langkah Mudah Menyusun Laporan Keuangan BUMDes Beserta Contohnya.

Oleh karena BUMDes merupakan Badan Usaha yang artinya bukan milik pribadi melainkan milik desa dan dibentuklah badan untuk menjalankan usahanya maka dibutuhkan 2 laporan utama yaitu laporan keuangan dan laporan kinerja. Dalam kesempatan ini kita akan sampaikan langkah mudah dalam menyusun laporan kuangan bumdes beserta contohnya.




Ada 2 jenis laporan keuangan, satunya berbasis kas yang biasanya terdiri dari debet kredit dan saldo ( akhir ) dan ada yang berbasis akrual yang terdiri dari minimal laporan neraca dan laba rugi. Dan yang memiliki standart keuangan adalah berbasis akrual ada neraca dan laba rugi. Dan untuk membuat sebuah laporan neraca dan laba rugi dibutuhkan akuntansi sebagai alat bantu. Untuk itu kami akan menyampaikan bagaimana langkah mudah menyusun laporan keuangan bumdes berdasarkan akuntansi yang menghasilkan neraca dan laba rugi.

Mengapa dalam laporan keuangan bumdes membutuhkan neraca dan laba rugi?

Karena dengan neraca dapat diketahui uang diperoleh darimana ( pasiva ) yang bisa terdiri dari modal desa, modal masyarakat, investasi dan lain lain yang merupakan kewajiban yang harus bisa dikembalikan. Dan digunakan untuk apa ( aktiva ) yang berupa aset baik dalam bentuk aset lancar ( kas, piutang, persediaan ) maupun aset tetap atau harta lancar ( peralatan usaha, mesin usaha, gedung ) dan lain lain. Sehingga dapat diketahui dan digunakan untuk apa saja. Hingga menghasilkan apa ( rugi / laba ). Dana darimana digunakan untuk apa bisa diketahui dalam neraca dan menghasilkan apa bisa diketahui dari rugi dan laba. Begitu juga posisi keuangan terakhir harta menjadi berapa dikurangi rugi atau ditambah laba bisa di lihat di neraca. Itu fungsi keuangan berbasis akrual dengan akuntansi.




Lalu bagaimana langkah mudah menyusun laporan keuangan bumdes dengan akuntansi tersebut?..

Yang pertama seharusnya sebelum mendirika badan usaha milik desa sudah menyiapkan akuntansi yang sesuai dengan jenis usaha bumdes, untuk mencocokan jenis usaha bumdes dengan jenis akuntansi sudah pernah kita tulis di tulisan sebelumnya ” Mencocokan Jenis Akuntansi BUMdes dengan Jenis Usaha BUMDes “. Jadi intinya perlu menyesuaikan usaha bumdes itu usaha apa lalu memilih jenis akuntansinya, yang terdiri dari 3 jenis akuntansi, yaitu akuntansi jasa, dagang dan manufaktur. Akuntansi jasa adalah akuntansi yang paling sederhana, pendapatan hanya diperoleh dari jasa. Tetapi akuntansi dagang pendapatan diperoleh dari penjualan yang tentu ada harga pokok penjualan ( HPP ) nya juga persediaan barang ( stok ) yang harus ditampilkan dalam neraca. Berbeda lagi dengan akuntansi manufaktur, selain sebagaimana akuntansi dagang, perlu disampaikan pula jumlah aset yang berupa bahan mentah, bahan setengah jadi hingga barang siap dijual atau stok. Sehingg fungsi neraca dalam akuntansi bisa menjelaskan dana dipergunakan untuk apa saja.

Yang kedua adalah mendesain akun ( perkiraan ), akun atau perkiraan dalam akuntansi yang terdiri dari grup akun yang menyampaikan tentang harta, hutang, biaya, pendapatan dan lain lain. Serta akun akun yang digunakan untuk menjurnal atau menginput sebuah transaksi usaha. Sehingga menghasilkan informasi yang jelas, kas berapa, piutang berapa, peralatan berapa, hutang berapa, modal berapa, pendapatan berapa dan biaya biaya berapa. Fungsi dari menyusun akun atau perkiraan ini untuk mengetahui posisi keuangan sesuai yang kita butuhkan, contohnya jika kitaingin tahu kas masih berapa setiap saat, maka kita perlu menyusun akun atau perkiraan kas nya.

Selanjutnya setelah menyusun akun atau perkiraan yang sesuai dengan transaksi usaha kita, maka selanjutnya adalah menyusun anggaran usaha. Anggaran usaha adalah patokan atau target yang akan kita capai, sehingga apa yang kita lakukan akan diketahui apakah sudah sesuai dengan target atau anggaran atau tidak. Sebagai contoh dalam tahun 2020 kita mentargetkan pendapatan Rp. 100.000.000 ( seratur juta ) maka kita akan menganggarkan anggaran pendapatan Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ), sehingga setiap saat kita akan tahu seberapa jauh usaha kita mencapai target dalam anggaran.




Langkah selanjutnya adalah menginput ke dalam jurnal ( pencatatan ) dalam akuntansi. Yang pertama kita lakukan adalah menganalisa peristiwa ekonomi atau transaksi, dengan menganalisa transaksi tersebut kita akan tahu akan dicatat dimana transaksi tersebut. Apakah di kas, apakah di piutang, ataukan di pendapatan atau biaya. Sebagai contoh, apabila kita mendapatkan pendanaan atau pembiayaan dari desa, maka kalau kita analisa adalah modal desa masuk kredit dan bank debet, sehingga dalam neraca akan diketahui keseimbangan antara uang yang masuk dari pembiyaan desa dan ditaruh di bank.

Sebagai contoh modal dari Desa Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) dan ditransfer ke rekening bumdes Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) maka dalam menjurnal adalah mengkredit akun modal desa dan mendebet akun tabungan bank, karena uang dari pembiayaan desa dimasukan dalam rekening bumdes.

Maka dalam laporan keuangan bumdes dalam bentuk neraca akan muncul seperti gambar di bawah ini:

Contoh lagi, setelah masuk rekening bumdes, maka bumdes membutuhkan kas atau uang tunai untuk belanja peralatan usaha, maka dari akun tabungan tersebut di kredit dan di debet  atau dipindahkan ke akun kas. Sehingga dalam neraca akan muncul sisa di tabungan sebagai contoh Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ) karena diambil atau dipindah ke kas Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ) untuk membeli peralatan. Dengan demikian dapat dijelaskan dalam neraca bahwa dana pembiayaan dari desa Rp. 100.000.000 ( sertarus juta rupiah ) digunakan untuk kas Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ) dan di tabungan rekening bumdes masih Rp. 50.00.000 ( lima puluh juta rupiah ).

Dan saat uang kas digunakan untuk membeli peralatan usaha, sebagai contoh mesin pengemasan Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ) yang dijurnal dari kas, maka di kas tinggal Rp. 30.000.000 ( tiga puuh juta rupiah ). Dari situ maka dapat dilihat dalam neraca dana pembiayaan diperoleh Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) digunakan untuk kas atau sisa kas tunai Rp. 30.000.000 ( tiga puluh juta rupiah ), kekayaan berupa alat pengemas Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ) dan di tabungan bank Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ), totalnya sama atau seimbang antara pasiva dan aktiva. Itulah fungsi akuntansi.

Setelah menjurnal kita sudah dapat langsung melihat laporan keuangan baik neraca maupun laba ruginya. Dari contoh transaksi di atas maka akan muncul neraca, dana diperoleh Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) dari pembiayaan desa yang merupakan kewajiban dan telah digunakan untuk ditabung di bank Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta rupiah ), di kas ( tunai ) Rp. 30.000.000 ( tiga puluh juta rupiah ) dan dalam bentuk peralatan pengemasan ( harta tetap ) Rp. 20.000.000. Laporan keuangan bumdes dalam bentuk neraca bisa gamblang dijelaskan ke semua pihak.




Dari transaksi tersebut maka dapat di lihat di neraca sebagaimana gambar di bawah ini:

Selanjutnya adalah laporan laba rugi, darimana laporan laba rugi diperoleh?

Laporan laba rugi keuangan bumdes diperoleh dari seluruh pendapatan dikurangi dengan biaya biaya. Dan tentunya sudah dibuatkan akun atau perkiraan pendapatan dan biaya. Sebagai contoh apabila dalam operasional usaha mendapatkan proyek membuat kemasan kotak roti senilai Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ) maka di jurnal dengan memasukan Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ) sebagai pendapatan ( kredit ) dan selanjutnya uang tersebut dimasukan dalam akun / perkiraan kas ( tunai ) Rp. 20.00.000 ( dua puluh juta rupiah ). Sehingga dalam laporan keuangan pendapatan dan laba akan muncul yaitu Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ).

Bentuk jurnal seperti contoh gambar di bawah ini:

Tentu laporan rugi laba tidak hanya pendapatan saja, tetapi pendapatan dikurangi biaya, sebagai contoh biaya tenaga kerja. Dalam menjalankan proyek membuat kotak roti tersebut dibutuhkan biaya Rp. 5.000.000 ( lima juta rupiah ) maka perlu di jurnal dari akun Biaya SDM ( Di debet ) Rp. 5.000.000 ( lima juta rupiah ) dan diambil dari akun kas ( di kredit ) Rp. 5.000.000 ( lima juta rupiah ) sehingga dalam laporan keuangan bumdes rugi laba dapat diketahui Pendapatan Rp. 20.000.000 ( dua puluh juta rupiah ) dikurangi Rp. 5.000.000 ( lima juta rupiah ) sehingga masih laba Rp. 15.000.000 ( lima belas juta rupiah ). Begitu laporan laba rugi keuangan bumdes dibaca.

Dan tentunya Rp. 15.000.000 ( lima belas juta rupiah ) dalam bentuk laba tersebut akan mempengaruhi neraca karena jumlah kekayaannya bertambah Rp. 15.000.000 ( lima belas juta rupiah ), sehingga kekayaan atau ekuitas bumdes menjadi Rp. 115.000.000 ( seratus lima belas juta ) dari modal awal Rp. 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) ditambah laba Rp. 15.000.000 ( lima belas juta rupiah ).




Dari transaksi pendapatan dan biaya tersebut menghasilkan laporan laba rugi sebagaimana gambar di bawah ini:

Di bawah adalah contoh laporan keuangan bumdes sebagai contoh di atas:

  1. Laporan Daftar Jurnal Keuangan ( daftar seluruh transaksi bumdes ).
  2. Laporan Pengeluaran BUMDes ( Pengeluaran BUMDes )
  3. Laporan Keuangan BUMDes Dalam Bentuk Neraca ( Posisi Keuangan )
  4. Laporan Keuangan BUMDes Dalam Bentuk Laba Rugi.

Bagi yang berminat menyewa aplikasi untuk praktek / belajar sebagaimana contoh di atas atau mengikuti pelatihan onlinenya, silahkan hubungi kami di WA 085645524839




Mari bagikan seluas-luasnya manfaat dengan tombol di bawah ini..
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Teknik Menyusun Akun Perkiraan Laporan Keuangan BUMDes Dalam Akuntansi BUMDes.

Ming Jun 14 , 2020
Dalam membuat laporan keuangan BUMDes dibutuhkan teknik menyusun akun atau perkiraan sehingga informasi keuangan yang dibutuhkan dapat disajikan dengan tepat dalam laporan keuangan BUMDes dalam Akuntansi. Untuk itu maka perlu kita sampaikan teknik menyusun akun atau perkiraan dalam akuntansi BUMDes. Pertama yang kita lahukan adalah memahami apa yang dimaksud dengan […]
BIIZAA