Akuntansi BUMDes Sebagai Alat Untuk Menyembuhkan dan Menyehatkan BUMDes.

Akuntansi BUMDes sangat penting karena akuntansi merupakan bahasa bisnis yang bisa dipahami berbagai pihak, mulai dari pemilik usaha ( desa ), auditor ( pemeriksa ) dan stake holder ( pemangku kebijakan lainnya ). Terutama mampu untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang posisi atau kinerja Badan Usaha Milik Desa. Dengan Akuntansi BUMDes kita akan mengetahui dana darimana, digunakan untuk apa dan menghasilkan apa ( laba / rugi ) serta bagaimana pengembangannya.

Apa saja yang dihasilkan oleh Akuntansi BUMDes?

Setidaknya ada dua hal penting hasil dari akuntansi BUMDes dalam bentuk laporan keuangannya, yaitu:

Neraca, neraca akuntansi BUMDes mencerminkan uang diperoleh darimana ( pasiva ) yang berisi tentang modal penyertaan dari desa, hutang maupun investasi atau penyertaan modal dari masyarakat. Dari neraca bisa kita lihat darimana saja dan diperoleh dan berapa jumlahnya, serta untuk mengukur kemampuan bumdes untuk membayar hutang, mengembalikan modal yang diperoleh. Selanjutnya digunakan untuk apa saja dengan melihak baik harta lancar ( kas, persediaan, piutang, perlengkapan ) dan harta lancar lainnya. Dengan mengetahui harta lancar tersebut kita bisa melihat apakah BUMDes bisa atau mampu membiayai operasional atau hidupnya untuk jangka pendek. Jika saja tidak mempunyai kas yang cukup atau barang yang bisa ditunaikan yang cukup untuk membiayai operasionalnya, maka bumdes juga tidk sehat.




Neraca dalam akuntansi BUMDes juga bisa digunakan untuk melihat apakah suatu Badan Usaha Milik Desa kekayaannya tinggal berapa, atau posisi kekayaannya. Posisi kekayaan ( aset / ekuitas ) jika dibandingkan dengan hutang, modal dan pasiv lainnya, apakah seimbang atau tidak. Jika tidak seimbang, atau kekayaan Badan Usaha Milik Desa dibawah hutang dan modal, maka BUMDes tidak sehat dan perlu segera disehatkan. Banyak hal yang bisa dianalisa maupun dilakukan jika memiliki Neraca BUMDes. Tetapi kalau tidak mempunyai kita akan kesulitan mengetahui dan menganalisanya.

Selain neraca dalam akuntansi BUMDes, maka yang kedua adalah Laporan Laba Rugi, laporan laba rugi sangat penting dimiliki oleh BUMDes dalam akuntansi BUMDes, karena dengan laporan laba rugi kita bis mengetahui posisi apakah BUMdes laba atau rugi. Seandainya rugi dapat kita analisa mengapa rugi, apakah memang karena dalam proses mencari konsumen ( customer acquisition ) atau masih dalam proses pembangunan untuk menuju berpendapatan dan laba. Sehinga kerugian bisa dijelaskan kepada pihak lain. Selain itu dalam laporan laba rugi, dapat dilihat pendapatan, darimana saja pendapatan diperoleh dan berapa jumlahnya. Dengan mengetahui pendapatan kita bisa menganalisa apakah pendapatan bisa dinaikan atau dimaksimalkan. Pendapatan apa saja yang bisa dimaksimalkan kita akan tahu. Selain pendapatan adalah biaya. Laba atau rugi, dipengaruhi oleh pendapatan dan biaya, apabila biaya lebih tinggi daripada pendpatan tentu BUMDes akan mengalami kerugian. Tetapi apabila pendapatan lebih tinggi daripada biaya atau beban, maka BUMDes bisa mengalami laba. Biaya terdiri dari berbagai hal, tergantung apa bentuk usaha BUMDes dan apa saja yang menjadi biaya. Dengan mengetahui biaya, maka kita bisa menganalisa biaya apa saja yang bisa ditekan ( efektif, efisien dan ekonomis ). Dengan menekan biaya otomatis akan mempengaruhi peningkatan laba.

Dengan akuntansi bumdes dan laporan keuangannya minimal neraca dan rugi laba kita bisa mengukur suatu bumdes, dan bumdes yang bisa diselesaikan masalahnya adalah bumdes yang terukur. Begitu juga bumdes yang bisa ditingkatkan adalah bumdes yang terukur juga. Hal yang terukur ( measurable ) akan bisa diatasi masalah serta ditingkatkan kinerjanya. Dari laporan dalam akuntansi bumdes tersebut, setidaknya kita bisa menganalisa rasio keuangan sebagai berikut:




  1. Rasio Likuiditas, atau rasio lancar dimana rasio ini digunakan untuk mengukur apakah bumdes mampu membiayai hidupnya dalam jangka pendek, seperti membayar gaji, membayar transportasi, listrik dan lain lain atau bahkan hutang yang jatuh dalam jangka pendek.
  2. Rasio Solvabilitas, rasio ini untuk mengukur kemampuan bumdes untuk membayar hutang (jangka panjang ) atau mengembalikan modal desa serta pasiva lainnya seperti dana dari investor dan lain lain.
  3. Rasio Profitabilitas, rasio ini untuk mengukur kemampuan bumdes untuk menghasilkan pendapatan dan laba. Sehingga dengan rasio ini, bisa dilihat apakah manajemen bumdes mampu menghasilkan laba atau tidak.

Disitulah pentingnya akuntansi bumdes, yang bukan saja sekedar pembukuan yang mencatat transaksi, debet, kredit dan saldo ( berbasis kas ), tetapi akuntansi yang berbasis akrual ( neraca ) yang akan membawa bumdes bisa menyelesaikan masalahnya juga bisa mengembangkan dirinya menjadi bumdes yang sehat dan unggul. ( Supriadi Asia / www.biizaa.com ).

Mari bagikan seluas-luasnya manfaat dengan tombol di bawah ini..
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •